Jember (Humas) --- Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember, Dr. Santoso, S.Ag., M.Pd., menghadiri acara peresmian Program Sumur Bor yang digagas oleh LAZNAS Nurul Hayat (NH) Jember untuk Pondok Pesantren Hidayatus Shibyan. Kegiatan tersebut berlangsung di lingkungan pondok pesantren yang berlokasi di Dusun Krajan, Desa Tisnogambar, Kecamatan Bangsalsari, Jember, pada Selasa (10/2/2026).
Peresmian ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial dalam menghadirkan akses air bersih bagi para santri dan masyarakat sekitar. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pengurus LAZNAS Nurul Hayat Jember, pengasuh pondok pesantren, tokoh masyarakat, serta para santri yang menyambut penuh rasa syukur atas terealisasinya program tersebut.
Ketua Cabang Nurul Hayat Jember, Zaky Noerahman, dalam sambutannya menyampaikan bahwa program sumur bor ini merupakan kebutuhan mendesak yang telah lama dinantikan. Ia berharap fasilitas tersebut dapat menjadi amal jariyah bagi seluruh pihak yang terlibat.

“LAZNAS Nurul Hayat Jember hadir sebagai jembatan atas kebaikan warga Jember serta para alumni Pondok Pesantren Hidayatus Shibyan. Alhamdulillah, berhasil terkumpul dana sebesar 45 juta rupiah dan sumber air yang didapatkan pun cukup besar. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur, baik dari Jember maupun luar daerah,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Jember, Dr. Santoso, S.Ag., M.Pd., secara langsung meresmikan program sumur bor tersebut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menghadirkan kemaslahatan bagi umat.
“Air adalah sesuatu yang sangat istimewa dan dibutuhkan di setiap lini kehidupan. Alhamdulillah, yang sebelumnya para santri dan masyarakat mungkin mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, kini dapat merasakannya dengan lebih mudah. InsyaAllah, setiap tetes air yang mengalir akan menjadi amal jariyah bagi para donatur dan semua pihak yang terlibat,” tuturnya.
Melalui program ini, diharapkan keberadaan sumur bor tidak hanya mendukung kebutuhan dasar pesantren, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial. Sinergi antara lembaga filantropi, pesantren, dan masyarakat menjadi bukti bahwa kolaborasi kebaikan mampu menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan sekitar.