Perkuat Peran Penyuluh di Tengah Masyarakat, Kemenag Jember Bekali 145 Penyuluh Agama dengan Ilmu Parenting — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember
Beranda / Berita / Detail
Bagikan
Berita 21 Oktober 2026

Perkuat Peran Penyuluh di Tengah Masyarakat, Kemenag Jember Bekali 145 Penyuluh Agama dengan Ilmu Parenting

 

Jember (Humas) --- Sebanyak 145 penyuluh agama di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember mengikuti kegiatan Pembinaan Ilmu Parenting yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD IPARI) Kabupaten Jember di Aula Kantor Kemenag Jember, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi penyuluh agama dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat, khususnya terkait pengasuhan anak, ketahanan keluarga, serta pembentukan karakter generasi muda.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Jember, Dr. Santoso, S.Ag., M.Pd., Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, Dr. Ahmad Tholabi, M.HI dan Ketua PD IPARI Kabupaten Jember, Cecep Hendrik Adiatna, S.Ag.

Membuka kegiatan secara resmi, Santoso menegaskan bahwa peran penyuluh agama tidak hanya terbatas pada penyampaian pesan-pesan keagamaan, tetapi juga harus mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan seorang penyuluh tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan, melainkan dari perubahan positif yang dirasakan masyarakat setelah mendapatkan pembinaan dan pendampingan.

“Penyuluh agama harus mampu menghadirkan dampak nyata di tengah masyarakat. Keberhasilan penyuluhan bukan sekadar berapa kali kita menyampaikan materi atau berapa banyak masyarakat yang hadir, tetapi sejauh mana kehadiran kita mampu mengubah pola pikir, memperbaiki perilaku, dan membantu keluarga menghadapi persoalan kehidupan,” ujar Santoso.

Ia menambahkan bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Karena itu, pemahaman tentang ilmu parenting menjadi bekal penting bagi penyuluh agama untuk membantu orang tua membangun pola pengasuhan yang sehat, penuh kasih sayang, dan berlandaskan nilai-nilai agama.

Santoso juga berharap para penyuluh agama semakin adaptif terhadap perkembangan zaman dan mampu memperluas pendekatan penyuluhan sesuai kebutuhan masyarakat.

“Ke depan, saya berharap penyuluh agama tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan nasihat keagamaan, tetapi juga menjadi sahabat keluarga, pendamping orang tua, dan penggerak perubahan sosial. Ilmu yang diperoleh hari ini harus diterjemahkan menjadi kegiatan nyata di wilayah binaan masing-masing, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” harapnya.

 

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penguatan materi parenting melalui pemaparan Frimha Purnamawati, S.Pd., M.Pd., Lektor dari Universitas Jember, dengan bahan diskusi bertajuk Sekolah Menjadi Orang Tua (SMOT).

Materi tersebut menawarkan konsep pendidikan pengasuhan yang terstruktur dan berkelanjutan, mulai dari persiapan diri pada usia remaja, masa pranikah, kehamilan dan pengasuhan bayi, masa balita, hingga pendampingan anak usia sekolah dan remaja.

Salah satu perhatian utama dalam konsep SMOT adalah pentingnya keterlibatan ayah dan ibu secara bersama-sama dalam pengasuhan. Selain itu, materi juga menekankan kemampuan orang tua dalam mengelola emosi, membangun komunikasi yang sehat, menerapkan disiplin positif, serta melindungi anak dari kekerasan dan berbagai risiko di lingkungan digital.

Melalui pendekatan tersebut, penyuluh agama diharapkan memiliki bekal yang lebih komprehensif untuk mendampingi keluarga sesuai persoalan yang dihadapi pada setiap tahapan kehidupan.

Pembinaan ini juga membuka ruang pengembangan sinergi antara penyuluh agama dan berbagai pihak, seperti Kantor Urusan Agama (KUA), lembaga pendidikan, perguruan tinggi, fasilitas kesehatan, serta unsur masyarakat lainnya.

Kolaborasi lintas sektor menjadi penting mengingat persoalan pengasuhan tidak hanya berkaitan dengan pendidikan agama, tetapi juga menyangkut kesehatan, psikologi, komunikasi keluarga, dan perlindungan anak.

Melalui kegiatan ini, Kemenag Jember bersama PD IPARI berupaya memperkuat kapasitas penyuluh agama agar mampu menjalankan fungsi pembinaan secara lebih responsif, inovatif, dan berdampak.

Dengan bekal ilmu parenting yang semakin memadai, para penyuluh diharapkan dapat menjadi penggerak terbentuknya keluarga yang harmonis, tangguh, dan berkarakter, sekaligus berkontribusi dalam menyiapkan generasi masa depan yang berkualitas.

Bagikan: WA FB
Kembali ke Daftar Berita

Aksesibilitas
Ukuran Teks
Tema
Keterbacaan
Kurangi Animasi
Baca Teks (TTS)