Bukan Sekadar Administrasi, Kepala RA Dituntut Jadi Pemimpin Pembelajaran — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember
Beranda / Berita / Detail
Bagikan
Berita 22 September 2026

Bukan Sekadar Administrasi, Kepala RA Dituntut Jadi Pemimpin Pembelajaran

 

Jember (Humas) --- Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember, Dr. Santoso, S.Ag., M.Pd., secara resmi membuka Pendidikan dan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Kepala Raudlatul Athfal (RA) Kabupaten Jember, Senin (21/9/2026). Kegiatan yang merupakan kolaborasi Kelompok Kerja Raudlatul Athfal (KKRA) Kabupaten Jember dengan Balai Diklat Keagamaan Surabaya tersebut dilaksanakan di dua lokasi, yakni Hotel 88 dan Hotel 91 Jember.

Ketua KKRA Kabupaten Jember, Sri Yulianingsih, S.Pd.I., M.Pd., dalam laporannya menyampaikan bahwa pelatihan dilaksanakan dalam dua angkatan. Angkatan I diikuti 40 Kepala RA dan berlangsung di Hotel 88 Jember, sedangkan Angkatan II yang juga diikuti 40 Kepala RA dilaksanakan di Hotel 91 Jember.

Dengan demikian, sebanyak 80 Kepala RA mengikuti kegiatan peningkatan kompetensi tersebut. Pelatihan diharapkan tidak hanya menambah pengetahuan peserta, tetapi juga membawa perubahan nyata dalam tata kelola, kepemimpinan, serta kualitas layanan pendidikan anak usia dini di masing-masing lembaga.

Dalam arahan dan pembinaannya, Santoso menegaskan bahwa peran Kepala RA harus berkembang dari sekadar pengelola administrasi menjadi pemimpin pembelajaran yang mampu menggerakkan guru, menjaga mutu layanan, membangun kepercayaan orang tua, serta memastikan setiap program berdampak pada tumbuh kembang anak.

“Administrasi penting, tetapi tujuan akhir pendidikan adalah perkembangan anak,” tegas Santoso.

Menurutnya, Kepala RA tidak cukup hanya memastikan kelengkapan administrasi. Kepala RA juga harus mengetahui apa yang terjadi di ruang kelas, bagaimana proses pembelajaran berlangsung, apakah anak merasa aman dan bahagia, serta apakah guru memperoleh ruang untuk terus tumbuh dan meningkatkan kompetensinya.

Santoso menekankan setidaknya lima perubahan yang perlu dibangun dalam kepemimpinan RA, yakni menjadi pemimpin pembelajaran, membangun tim yang kuat, meningkatkan kepercayaan orang tua, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta menjaga integritas dalam setiap layanan pendidikan. Menurutnya, keteladanan menjadi bagian penting karena pendidikan karakter tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi terutama melalui perilaku orang dewasa yang dilihat anak setiap hari.

Di tengah perubahan teknologi dan pola asuh keluarga, lanjut Santoso, RA juga tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan pada jenjang RA memiliki posisi penting dalam meletakkan fondasi iman, akhlak, kemandirian, kedisiplinan, kejujuran, keberanian, serta kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

 

Kepala RA juga dituntut mengembangkan kompetensi kepemimpinan, manajerial, kepemimpinan pembelajaran, kepemimpinan digital, dan kepemimpinan moral. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung administrasi, komunikasi, dokumentasi, publikasi, dan pembelajaran, namun sentuhan manusia tetap menjadi bagian utama dalam pendidikan anak usia dini.

Selain itu, Santoso mengingatkan pentingnya membangun RA yang aman, menyenangkan, inklusif, serta bebas dari kekerasan dan diskriminasi. Orang tua juga harus ditempatkan sebagai mitra pendidikan, bukan hanya dihubungi ketika muncul masalah atau urusan administratif.

Aspek integritas turut mendapat perhatian. Pengelolaan lembaga harus dilakukan secara transparan dan akuntabel, mulai dari pembiayaan, administrasi, pengelolaan data hingga pemberian layanan tanpa diskriminasi. Hal tersebut sekaligus sejalan dengan semangat pembangunan Zona Integritas di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Jember.

Santoso menegaskan bahwa keberhasilan diklat tidak semata diukur dari sertifikat yang diperoleh, melainkan dari perubahan yang terjadi setelah peserta kembali ke lembaganya.

“Diklat dianggap berhasil bukan ketika memperoleh sertifikat, tetapi ketika setelah pulang ada sesuatu yang berubah di lembaga masing-masing,” pesannya.

Ia berharap Kepala RA di Kabupaten Jember mampu menghadirkan lembaga pendidikan yang semakin bermutu, ramah anak, inklusif, berintegritas, adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap kuat dalam nilai-nilai agama. Orientasi akhirnya sederhana namun mendasar: anak bahagia, guru berkembang, orang tua percaya, dan lembaga semakin maju.

Pelatihan yang di gelar mulai hari Senin (21/9/2026) hingga Jumat (25/9/2026), menghadirkan sejumlah narasumber dari Balai Diklat Keagamaan Surabaya serta unsur Kementerian Agama Kabupaten Jember. Berdasarkan jadwal kegiatan, materi yang diberikan mencakup analisis implementasi kurikulum di madrasah, sistem pelatihan dan pengembangan SDM Kementerian Agama, pengelolaan sumber daya madrasah, model kompetensi kepala madrasah, membangun jejaring madrasah, literasi digital, pengembangan ekosistem belajar di madrasah, madrasah rebranding, nilai-nilai dasar SDM Kementerian Agama, praktik baik pengelolaan madrasah, hingga penyusunan rencana tindak lanjut.

Melalui rangkaian materi tersebut, peserta diarahkan agar mampu membawa hasil pelatihan ke dalam praktik kepemimpinan di lembaga masing-masing.

Bagikan: WA FB
Kembali ke Daftar Berita

Aksesibilitas
Ukuran Teks
Tema
Keterbacaan
Kurangi Animasi
Baca Teks (TTS)