Jember (Humas) --- Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag., melakukan kunjungan kerja ke Kampung Zakat Terpadu yang berlokasi di Dusun Pace, Desa Jambearum, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Kamis (16/10/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk peninjauan langsung sekaligus penyaluran zakat dan bantuan kepada mustahik di kampung tersebut.
Prof. Abu Rokhmad dalam kesempatan ini didampingi oleh Kasubdit Bina Kelembagaan dan Kerja Sama Zakat dan Wakaf, Muhibuddin, S.Fil.I., M.E., Kepala Bidang PENAIS dan Pemberdayaan Zakat & Wakaf Kanwil Kemenag Jawa Timur, Dr. H. Moh. Arwani, M.Ag., serta Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Jember, Dr. Santoso, S.Ag., M.Pd., bersama jajaran. Hadir pula dalam acara perwakilan Lembaga Amil Zakat (LAZ) se-kabupaten Jember dan perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA).
Acara penyaluran zakat digelar di halaman sekretariat Kampung Zakat Terpadu. Sebanyak ± 30 mustahik hadir untuk menerima bantuan yang disalurkan melalui BAZNAS Jember dan lima lembaga Amil Zakat (LAZ). Rincian paket bantuan sebagai berikut:
BAZNAS Jember: 17 paket sembako
LAZ AZKA: 3 paket sembako
LAZ Nurul Hayat: 19 paket sembako
LAZ MA: 1 paket sembako
LAZ Yatim Mandiri: 5 paket sembako
LAZ YDSF: 3 paket sembako

Di samping itu, Ditjen Bimas Islam juga turut menyerahkan bantuan senilai Rp. 23 Juta (20 Juta untuk program umum, 3 Juta untuk papanisasi) kepada pengelola Kampung Zakat untuk mendukung aktivitas pemberdayaan.
Dalam dialog bersama, Direktur Kampung Zakat Terpadu, KH. Amiruddin, S.Pd memaparkan bahwa Kampung Zakat telah berdiri sejak tahun 2018. Sejak awal pembentukan, pengelola telah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari mengubah cara pandang masyarakat ke arah yang lebih baik hingga menjamin kelangsungan kegiatan pemberdayaan.
Camat Sumberjambe, Djoni Nurtjahjono, turut menyampaikan beberapa permasalahan dan potensi yang dimiliki Dusun Paceh. Ia menyebut di daerah sekitar tersebut masih marak terjadi pernikahan dini, oleh karenanya perlu dilakukan sosialisasi terus-menerus dari pemerintah terkait hal ini. Sementara itu, potensi yang disorot adalah sektor perkebunan kopi yang ada di dusun Paceh, yang sebelumnya pernah menunjukkan perkembangan positif. Namun, produksi masih terganggu akibat bencana tanah longsor yang merusak sebagian kebun masyarakat.
Dalam sambutannya, Dirjen Bimas Islam mengatakan bahwa beliau tertarik untuk mengunjungi Kampung Zakat Terpadu Jember karena ini merupakan kampung zakat pertama di Indonesia. Beliau mengajak semua pihak untuk istiqamah dalam berbuat kebaikan, meskipun kontribusi dalam skala kecil sekalipun:
“Lebih baik kita berbuat untuk satu atau dua orang daripada tidak sama sekali,” kata beliau dengan tegas.
Beliau juga menghimbau agar pemerintah daerah, penyuluh agama, dan lembaga zakat terus mendampingi pengembangan Kampung Zakat dan tidak lelah berupaya. Menurutnya, gerakan zakat, infak, dan wakaf harus dibumikan sebagai ruang nyata berbagi manfaat dan ladang pahala bagi seluruh umat.
Kunjungan Dirjen Bimas Islam ini sekaligus menjadi bentuk sinergi antara Kementerian Agama, BAZNAS, LAZ, dan pemerintah daerah dalam mengembangkan kampung zakat berbasis potensi lokal. Kampung Zakat Terpadu di Jember diharapkan menjadi model pemberdayaan yang mengedepankan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.