
Jember (Humas) --- Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember melalui Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam menggelar kegiatan Pembinaan dan Road to Bimtek Penyusunan Kinerja Penyuluh Agama, Kamis (18/09/2025) bertempat di Aula Kankemenag Jember.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kemenag Jember, Dr. Santoso, S.Ag., M.Pd. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Seksi Bimas Islam, Dr. Ahmad Tholabi, M.HI., Ketua PW IPARI Jawa Timur Syaifudin Ma’arif, S.Ag., M.Si., Sekretaris PW IPARI Jatim Dr. Rahmad Salahudin TP, S.Ag., M.Pd.I, serta Dr. Alfiatu Solikah, M.Pd.I, Kusnan, S.Ag., M.Fil, dan M. Zakariya, S.Ag., M.Pd.I yang merupakan anggota tim penyusun Buku Pedoman Kinerja Penyuluh Agama Terintegrasi Asta Protas Kementerian Agama RI.
Acara ini juga dihadiri oleh Ketua PD IPARI Jember, Cecep Hendrik Adiatna, S.Ag., serta beberapa penyuluh agama dari kabupaten lain, di antaranya Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Kediri, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Malang, yang kebetulan sedang berada di Jember untuk mendampingi kafilah MTQ masing-masing.
Kegiatan diikuti oleh 145 orang penyuluh agama Islam, 2 orang penyuluh agama Kristen, dan 1 orang penyuluh agama Katolik, sehingga mencerminkan semangat kebersamaan lintas agama dalam meningkatkan kualitas bimbingan keagamaan.

Sebagai narasumber, Syaifudin Ma’arif, S.Ag., M.Si. menyampaikan materi bertajuk “Menjadi Penyuluh: Kebanggaan atau Impian”. Ia menegaskan bahwa jabatan fungsional penyuluh agama bukan sekadar profesi, melainkan amanah yang memiliki ruang lingkup, tugas, wewenang, serta tanggung jawab penuh dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan agama.
Penyuluh agama, menurutnya, memiliki peran strategis sebagai agen perubahan sosial (agent of social change), rujukan umat dalam literasi keagamaan, serta petugas negara yang menyampaikan pesan-pesan pembangunan dengan pendekatan keagamaan. Penyuluh juga diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai keislaman di masyarakat melalui pendidikan non-formal, konseling, advokasi, hingga pemanfaatan media sosial dan teknologi untuk memperluas jangkauan dakwah
Ia juga menyoroti tantangan era modern, di mana masyarakat dihadapkan pada budaya konsumtif, realitas ganda (multiple realities), serta kelompok rentan seperti masyarakat miskin, generasi muda, dan kelompok ahistoris. Untuk itu, penyuluh agama dituntut tidak hanya menguasai sumber keilmuan klasik di masjid atau majelis taklim, tetapi juga memanfaatkan media digital sebagai sarana pencerahan.
“Indonesia masa depan akan didominasi oleh masyarakat urban, kelas menengah, dan generasi milenial. Penyuluh agama harus hadir di ruang-ruang tersebut untuk memberi bimbingan yang kontekstual,” tegasnya

Pada kesempatan tersebut, panitia juga membagikan Buku Pedoman Kinerja Penyuluh Agama Terintegrasi Asta Protas Kemenag RI kepada seluruh peserta sebagai panduan praktis dalam melaksanakan tugas secara profesional dan berdampak nyata di masyarakat.
Selain paparan materi, kegiatan ini juga diisi dengan kajian mendalam Buku Pedoman Kinerja Penyuluh Agama Terintegrasi Asta Protas Kemenag RI. Kajian tersebut dipandu langsung oleh Rahmad Salahudin TP, yang merupakan salah satu anggota tim penyusun buku. Dalam kajiannya, ia menekankan pentingnya pedoman ini sebagai panduan kerja terukur, profesional, serta terintegrasi dengan visi moderasi beragama dan pembangunan nasional.
Santoso dalam sambutannya berharap, melalui kegiatan ini para penyuluh agama semakin termotivasi untuk menjadikan perannya bukan sekadar impian, melainkan kebanggaan yang membawa kemanfaatan bagi umat, bangsa, dan negara.