
Jember (Humas) – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember melalui Penyelenggara Katolik menggelar acara pembinaan keluarga Katolik di aula Titus Brandsma Paroki Santo Yusup Jember, Minggu (12/5/2024). Acara pembinaan ini diikuti 80 orang keluarga Katolik. Tampil sebagai narasumber dalam acara pembinaan ini adalah Formator Seminarium Marianum Probolinggo Romo Petrus Harsa Trihapsara O.Carm, penulis buku-buku rohani Katolik Timo Teweng dan Psikolog Klinis Rumah Sakit Jember Klinik Nadia Maria.
Turut hadir dalam acara tersebut Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember Petrus Amat Sutadi beserta staf, Pembimas Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Aries Papudi, Pastor Kepala Paroki Santo Yusup Jember Romo Yoseph Utus O.Carm, Ketua Dewan Pastoral Paroki Santo Yusup Jember Brigita Susanti dan para tokoh agama Katolik.
Acara pembinaan ini mengangkat tema “Keluarga Katolik di Era Digital.” Pemilihan tema ini merupakan sebuah refleksi kritis terhadap perkembangan teknologi digital dalam setiap ranah kehidupan kita dewasa ini, termasuk kehidupan keluarga-keluarga. Teknologi digital tidak hanya membawa dampak positif bagi keluarga-keluarga, tetapi juga bisa berdampak negatif bila tidak disikapi dengan kritis dan bijaksana. Hal inilah yang mendorong Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember mengadakan pembinaan bagi keluarga-keluarga Katolik, terutama keluarga-keluarga muda.
Petrus Amat Sutadi dalam sambutan singkatnya mengatakan, acara pembinaan ini merupakan salah satu bentuk kehadiran negara untuk memperkokoh institusi keluarga dalam menghadapi tantangan di era digitalisasi saat ini. Melalui Kementerian Agama, negara hadir untuk memberikan pencerahan bagi setiap anggota keluarga agar mereka dapat membentengi diri dari pengaruh-pengaruh buruk era digital. “Mengapa keluarga yang menjadi fokus utama pembinaan kali ini? Karena keluarga adalah ‘sel inti’ masyarakat, bangsa dan negara. Kalau keluarga baik, maka masyarakat dan negara pasti baik. Oleh karena itu, kalau kita ingin memperbaiki keadaan negara, pertama-tama yang harus diperbaiki adalah individu-individu dalam keluarga,” kata Petrus Amat Sutadi.
Ia menambahkan, saat ini anak-anak kita merasa “terasing” di lingkungan keluarga mereka sendiri. Hal ini terjadi karena para orangtua sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sehingga tidak ada waktu yang cukup untuk berkomunikasi dengan anak-anak. Dengan alasan sibuk, banyak orangtua yang mengabaikan pendidikan nilai bagi putra-putrinya. Ada orangtua yang sibuk dengan pekerjaannya, ada yang sibuk dengan kesenangan dan hobinya, bahkan ada yang sibuk chatting di media sosial tanpa tujuan yang jelas, dan masih banyak lagi kesibukan lainnya.
Hal senada disampaikan oleh Aries Papudi. Ia mengungkapkan, kurangnya perhatian dari para orangtua mengakibatkan anak-anak mencari kesenangannya sendiri, asyik dengan dunia mereka sendiri, dan mencari pemenuhan kebutuhan mereka untuk diperhatikan dan dikasihi dengan cara mereka sendiri. Sebagian mungkin mendapatkannya dari permainan game di hand phone, chatting di face book, WA, nonton hiburan-hiburan yang tidak mendidik di HP atau jalan-jalan/shopping di mall. Maka tidak heran bila anak-anak ini berkembang menjadi pribadi yang cenderung individualistik daripada berorientasi komunal dan berinteraksi langsung dengan orang-orang di sekitar mereka, terutama dengan kedua orangtua mereka sendiri. Kesenangan sesaat dan kehidupan yang hura-hura yang serba instan kerapkali menjadi pilihan utama mereka. “Anak-anak di era digital saat ini tidak lagi menempatkan iman sebagai prioritas utama dalam hidup mereka. Banyak di antara mereka yang kurang tertarik terhadap nilai-nilai agama yang dianutnya. Dalam menghadapi situasi seperti ini, para orangtua cenderung bersikap pasrah karena mereka juga kurang memahami psikologi anak. Karena itu, dalam acara pembinaan keluarga Katolik pada hari ini kita menghadirkan narasumber yang sangat kompoten di bidang kerohanian dan psikologi anak,” kata Aries.

Pada sisi lain, Romo Yoseph Utus O.Carm dalam sambutan singkatnya menyampaikan apresiasi yang sangat positip atas pelaksanaan pembinaan keluarga yang diadakan oleh Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember. Ia mengatakan, pembinaan seperti ini dapat membantu keluarga-keluarga dalam menyikapi berbagai fenomena yang terjadi di era digital saat ini, khususnya di lingkungan keluarga-keluarga Katolik. “Semoga acara pembinaan ini dapat membantu keluarga-keluarga dalam menyikapi dampak buruk kemajuan teknologi digital, terutama bagi anak-anak,” kata Romo Utus.
Sementara itu, Romo Petrus Harsa Trihapsara O.Carm dalam materinya mengungkapkan, orangtua adalah pendidik pertama dan utama yang tak tergantikan. Orangtua memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan masa depan bagi setiap anak bangsa. Suka duka bersama orangtua akan menggoreskan kesan tersendiri dalam hati setiap anak. Betapa sedih dan pilu hati anak jika mereka kurang mendapatkan perhatian dan pendidikan yang memadai dari kedua orangtuanya. Sebab, pendidikan dalam keluarga tidak hanya bertujuan untuk mendewasakan anak, tetapi juga mengajar mereka perlahan-lahan mengenal dan mendalami keutamaan-keutamaan yang dibutuhkan dalam hidup bersama, baik dalam lingkup keluarga maupun dalam hidup sosial kemasyarakatan. “Tanggungjawab orangtua sebagai pendidik pertama dan utama bagi setiap anak tidak bergerak searah. Ada relasi timbal balik yang saling memerkaya diri. Di satu sisi, orangtua menjadi pendidik yang menanamkan rasa kemanusiaan dalam diri anak. Sehingga anak dapat bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakter baik. Di sisi lain, orangtua juga belajar mengenai kemanusiaan dan dinamika kehidupan anak-anak di era yang serba digital saat ini. Inilah struktur organis dari pendidikan dalam keluarga. Maka, pendidikan anak dalam keluarga seyogianya tidak dipandang sebagai pilihan, tetapi wajib. Artinya, orangtua harus dapat memainkan peran sentral dalam menumbuhkembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik anak,” jelas Romo Petrus Trihapsara.
Pemikiran serupa disampaikan oleh Timo Teweng. Ia mengatakan, perkembangan teknologi digital saat ini membawa dampak yang sangat kompleks dalam kehidupan keluarga-keluarga. Para orangtua seringkali dihadapkan pada banyak pilihan yang serba problematik, mulai dari pendidikan anak, pekerjaan, tuntutan ekonomi, tuntutan sosial hingga masalah kesehatan mental bagi setiap anggota keluarganya. Oleh karena itu, ia memberikan beberapa pedoman yang perlu dipegang teguh oleh para orangtua dalam mendidik putra-putrinya, antara lain: (1) orangtua harus selalu ingat dan setia pada janji pernikahan mereka, terutama janji untuk mendidik anak secara Katolik; (2) orangtua harus selalu memposisikan diri sebagai pendidik pertama dan utama yang tak tergantikan oleh siapapun; (3) orangtua harus memberikan teladan yang positif bagi setiap anak; dan (4) dalam menghadapi era digital saat ini, setiap keluarga harus membentengi dirinya dengan kekuatan doa, firman Allah, misa kudus, dan psikologi anak. “Di balik anak-anak hebat pasti ada orangtua hebat. Keberadaan seorang anak adalah representatif (perwujudan) keberadaan kedua orangtuanya. Sebab, sebelum seorang anak mengenal dunia luar, pertama-tama ia belajar dari kedua orangtuanya di dalam keluarga. Apa yang diajarkan oleh kedua orangtuanya, itu pula yang bertumbuh, berkembang dan berbuah dalam diri anak,”.