Masjid Jadi Pusat Perdamaian, 327 ASN Kemenag Jember Hadiri Tabligh Akbar — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember
Beranda / Berita / Detail
Bagikan
Berita 03 Agustus 2026

Masjid Jadi Pusat Perdamaian, 327 ASN Kemenag Jember Hadiri Tabligh Akbar

 

Surabaya (Humas) --- Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa masjid memiliki peran strategis sebagai pilar perdamaian, pusat pemberdayaan umat, sekaligus penggerak peradaban dunia.

Penegasan tersebut disampaikan dalam Istigasah dan Tabligh Akbar yang menjadi bagian dari rangkaian Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu (2/8/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Agama bekerja sama dengan Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) itu diikuti sekitar 11 ribu jemaah dari unsur pemerintah, ulama, akademisi, organisasi kemasyarakatan Islam, dan masyarakat umum. Turut hadir sebanyak 327 aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember, baik dari unsur pimpinan, Kepala KUA, penghulu, penyuluh agama, Kepala Madrasah, Kepala Tata Usaha, Wakil Kepala madrasah negeri.

Hadir pula Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar, Ketua Steering Committee IGIC Irjen Pol. M. Sabilul Alif, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, tokoh agama, serta pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam.

Sebelum istigasah dan tabligh akbar, rangkaian kegiatan diawali dengan Seminar Nasional bertema “Masjid Harmony: Religious Diplomacy and Global Peace” yang menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan.

Dalam sambutannya, Menteri Agama menyampaikan bahwa puncak IGIC 2026 dijadwalkan berlangsung pada September 2026 di Jakarta. Konferensi tersebut akan dihadiri sekitar 400 imam besar dari berbagai negara, termasuk Syekh Sudais, Grand Syekh Al-Azhar, serta imam dari Amerika, Eropa, Jepang, Korea, dan berbagai kawasan lainnya.

Menurut Menag, penyelenggaraan IGIC menjadi tonggak penting bagi Indonesia dalam memperkuat diplomasi keagamaan di tingkat global. Indonesia juga direncanakan menjadi tuan rumah pemilihan Presiden Asosiasi Imam Besar Internasional yang baru.

“Indonesia akan menjadi tuan rumah pemilihan Presiden Asosiasi Imam Besar Internasional yang baru. Ini menjadi momentum penting untuk membangun kesamaan visi, memperkuat ukhuwah, serta meneguhkan semangat toleransi dan perdamaian dunia,” ujarnya.

Menag menegaskan bahwa masjid-masjid di Indonesia telah berkembang menjadi rumah besar kemanusiaan yang mendapat perhatian dunia. Salah satunya Masjid Istiqlal yang memperoleh penghargaan dari Bank Dunia atas pengelolaan lingkungan berkelanjutan, seperti sistem daur ulang air wudu, pemanfaatan energi surya, dan pengelolaan kebersihan.

Ia menjelaskan, sejak masa Rasulullah saw., masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah. Sebagian besar aktivitas masjid juga berkaitan dengan pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, penguatan ekonomi umat, dan penyelesaian berbagai persoalan kemasyarakatan.

“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pencerahan, pemberdayaan umat, dan rumah besar kemanusiaan. Masjid harus menjadi tempat yang mempersatukan, bukan memprovokasi masyarakat,” tegas Menag.

 

Karena itu, Menag mengajak masyarakat memakmurkan masjid dengan menghidupkan kembali fungsi sosial, pendidikan, ekonomi, dan kemanusiaan sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. Dengan demikian, masjid diharapkan menjadi pusat lahirnya masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berkeadaban.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar mengatakan, istigasah dan tabligh akbar tersebut menjadi momentum untuk memperkuat persatuan umat sekaligus mendukung kesuksesan penyelenggaraan IGIC 2026.

“Kita tidak hanya bermunajat kepada Allah Swt., tetapi juga meneguhkan komitmen bersama untuk menjaga persatuan umat, memperkuat moderasi beragama, serta membangun harmoni sosial di tengah keberagaman,” ujarnya.

Menurutnya, Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat perkembangan peradaban Islam di Indonesia. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, ulama, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat harus terus diperkuat dalam mengarusutamakan nilai-nilai Islam yang moderat, inklusif, dan berkeadilan.

Ia juga mengajak masyarakat memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah sebagai fondasi dalam membangun kehidupan yang harmonis, aman, dan sejahtera.

“Kami berharap kegiatan ini semakin meningkatkan keimanan, memperkuat kepedulian sosial, serta meneguhkan komitmen bersama dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan perdamaian,” pungkasnya.

Ketua Steering Committee IGIC, Irjen Pol. M. Sabilul Alif, menjelaskan bahwa IGIC 2026 akan dilaksanakan di Masjid Istiqlal dan Hotel Borobudur, Jakarta, dengan peserta dari sekitar 50 negara.

Kegiatan di Surabaya merupakan bagian dari rangkaian sosialisasi IGIC yang sebelumnya juga digelar di Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Banten.

“Imam bukan hanya pemimpin ibadah, tetapi juga panutan moral yang memiliki jejaring lokal, nasional, hingga global. Melalui IGIC, Indonesia diharapkan menjadi episentrum peradaban Islam dunia yang mengedepankan harmoni, diplomasi keagamaan, dan perdamaian,” tandasnya.

Keikutsertaan 327 ASN Kemenag Jember dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk memperkuat moderasi beragama, persatuan umat, serta peran masjid sebagai pusat pembinaan dan pemberdayaan masyarakat.

Bagikan: WA FB
Kembali ke Daftar Berita

Aksesibilitas
Ukuran Teks
Tema
Keterbacaan
Kurangi Animasi
Baca Teks (TTS)