Perkuat Koordinasi dan Profesionalitas, Kemenag Jember Gelar Pembinaan 149 Penyuluh Agama — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember
Beranda / Berita / Detail
Bagikan
Berita 21 Juli 2026

Perkuat Koordinasi dan Profesionalitas, Kemenag Jember Gelar Pembinaan 149 Penyuluh Agama

 

Jember (Humas) --- Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember melalui Seksi Bimbingan Masyarakat Islam menyelenggarakan Pembinaan dan Rapat Koordinasi Triwulan Penyuluh Agama di Aula Utama Kantor Kemenag Jember, Selasa (21/7/2026).

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember, Dr. Santoso, S.Ag., M.Pd., sekaligus memberikan pembinaan kepada seluruh peserta. Turut hadir Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, Dr. Ahmad Tholabi, M.HI., Ketua Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD IPARI) Kabupaten Jember, Cecep Hendrik Adiatna, S.Ag., serta jajaran pengurus dan anggota IPARI Kabupaten Jember.

Sebanyak 149 penyuluh agama di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember mengikuti kegiatan tersebut. Pembinaan dan rapat koordinasi dilaksanakan sebagai sarana evaluasi pelaksanaan program, penguatan kapasitas penyuluh, serta penyamaan langkah dalam menjalankan tugas pelayanan dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.

Dalam laporannya, Ketua PD IPARI Kabupaten Jember, Cecep Hendrik Adiatna, menyampaikan apresiasi kepada seluruh penyuluh agama yang telah bekerja keras menyelesaikan berbagai amanah dan tugas yang diberikan.

Ia secara khusus menyampaikan terima kasih atas kontribusi para penyuluh dalam proses pemutakhiran data pondok pesantren, pelaksanaan dan sosialisasi Rashdul Kiblat, serta percepatan pemutakhiran data masjid dan musala yang saat ini sedang dilaksanakan.

“Terima kasih dan selamat kepada teman-teman penyuluh agama yang telah berjuang keras menyelesaikan berbagai amanah. Semoga seluruh tugas yang dijalankan senantiasa diberikan kemudahan, kesehatan, dan keberkahan,” ungkap Cecep.

Menurutnya, pertemuan triwulan tersebut tidak hanya menjadi forum koordinasi organisasi, tetapi juga momentum untuk memperkuat tali silaturahmi, membangun motivasi, dan menyatukan langkah seluruh penyuluh agama dalam mencapai tujuan bersama.

Melalui koordinasi yang terarah, para penyuluh diharapkan semakin solid dan mampu menjalankan berbagai program kepenyuluhan secara terpadu, baik dalam bidang pembinaan kehidupan beragama, penguatan moderasi beragama, pendampingan masyarakat maupun pemutakhiran data keagamaan.

Cecep juga menilai berbagai inovasi dan dampak kinerja IPARI selama ini telah dirasakan oleh banyak pihak. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa administrasi kegiatan masih menjadi bagian yang perlu diperkuat.

Karena itu, seluruh penyuluh diminta semakin disiplin mengikuti standar operasional prosedur dalam setiap pelaksanaan kegiatan kepenyuluhan. Administrasi yang tertib diperlukan agar setiap program dapat direncanakan, dilaksanakan, dilaporkan, dan dievaluasi secara terarah serta terukur.

“Inovasi dan dampak kinerja IPARI telah dirasakan oleh banyak pihak. Kekurangan yang perlu kita benahi adalah administrasi. Ke depan, mari lebih disiplin mengikuti SOP agar seluruh kegiatan kepenyuluhan dapat berjalan secara terarah dan terukur,” tegasnya.

Selain itu, Cecep meminta jajaran pengurus PD IPARI Kabupaten Jember untuk memberikan perhatian serius terhadap program kerja yang telah disusun. Dukungan anggaran telah disiapkan sehingga setiap bidang diharapkan mampu merealisasikan programnya secara optimal dan bertanggung jawab.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan organisasi sangat bergantung pada komitmen, kekompakan, dan partisipasi aktif seluruh pengurus serta anggota.

“Program kerja yang telah disusun harus benar-benar diperhatikan dan dilaksanakan. Dana telah kami siapkan. Kalau bukan kita sendiri yang menyukseskan organisasi ini, siapa lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember, Dr. Santoso, menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kontribusi para penyuluh agama. Menurutnya, penyuluh agama telah banyak membantu pelaksanaan berbagai program Kementerian Agama, termasuk pekerjaan yang berada di luar tugas pokok dan fungsi utama mereka.

Santoso menyebutkan sejumlah kontribusi tersebut, antara lain membantu pendataan pondok pesantren, masjid dan musala, serta terlibat sebagai tenaga pendidik di Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember.

“Banyak tugas yang telah dikerjakan oleh para penyuluh agama. Tidak hanya melaksanakan tugas pokok dalam memberikan penyuluhan dan pembinaan keagamaan, tetapi juga membantu berbagai program strategis Kementerian Agama. Dedikasi ini tentu patut kita apresiasi,” ujarnya.

Santoso menegaskan bahwa penyuluh agama merupakan salah satu ujung tombak Kementerian Agama yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Oleh karena itu, penyuluh harus terus meningkatkan kompetensi, menjaga integritas, membangun komunikasi yang baik, serta menghadirkan pelayanan keagamaan yang ramah dan solutif.

Dalam arahannya, Santoso juga mengingatkan pentingnya keterlibatan seluruh penyuluh agama dalam pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember.

 

Salah satu kontribusi nyata penyuluh agama dalam pembangunan Zona Integritas adalah lahirnya inovasi PELITA atau Pemberdayaan dan Perlindungan Terpadu Perempuan dan Anak. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan edukasi, pendampingan, pemberdayaan, serta perlindungan kepada perempuan dan anak, khususnya dalam mencegah terjadinya pernikahan usia anak.

Implementasi PELITA di Kecamatan Silo telah menunjukkan dampak yang nyata. Inovasi tersebut mampu menurunkan angka pernikahan anak dari 39 kasus pada tahun 2024 menjadi 24 kasus pada tahun 2025. Selain itu, PELITA juga berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melaporkan permasalahan perempuan dan anak hingga mencapai 81 persen.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi, edukasi, dan pendampingan yang dilakukan secara konsisten mampu mendorong perubahan perilaku sekaligus meningkatkan keberanian masyarakat untuk melapor dan mencari perlindungan ketika menghadapi persoalan.

Santoso berharap keberhasilan PELITA tidak hanya berhenti di Kecamatan Silo, tetapi dapat dikembangkan dan direplikasi di seluruh kecamatan di Kabupaten Jember dengan menyesuaikan karakteristik, permasalahan, serta kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.

“PELITA harus terus dikembangkan. Jangan hanya berhenti di Kecamatan Silo. Setiap penyuluh perlu memetakan persoalan di wilayah binaannya dan menghadirkan program yang mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Menurut Santoso, inovasi tidak harus selalu berbentuk aplikasi atau teknologi digital. Inovasi dapat diwujudkan melalui cara kerja baru, pola pendampingan yang lebih efektif, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta program yang terbukti memberikan manfaat dan perubahan nyata bagi masyarakat.

Kegiatan pembinaan juga diwarnai dengan pemberian tali asih oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember kepada dua penyuluh agama yang memasuki masa purna tugas. Keduanya adalah Achmad Al-Muhajir Sam, S.HI., Penyuluh Agama Ahli Pertama pada KUA Kecamatan Ambulu, dan S. Abdurrahman Dawam, S.Pd., Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Kaliwates.

Pemberian tali asih tersebut merupakan bentuk penghargaan dan ungkapan terima kasih atas pengabdian, dedikasi, serta kontribusi keduanya selama menjalankan tugas sebagai penyuluh agama. Santoso berharap semangat pengabdian yang telah ditunjukkan dapat menjadi teladan bagi penyuluh agama lainnya.

Selain pembinaan dan rapat koordinasi, para peserta juga memperoleh sejumlah materi penguatan kapasitas. Materi pembuka disampaikan oleh Sita Delilah Susanti, S.Sos.I., sedangkan sesi ice breaking dipandu oleh Tutik Hidayati, S.Ag. Materi mengenai kebutuhan keluarga disampaikan oleh Irhamni, S.Ag., sementara materi pondasi keluarga disampaikan oleh Lilik Umu Hanik, S.Ag.

Materi tersebut membahas penguatan keluarga sakinah, hubungan dan psikologi keluarga, pemenuhan kebutuhan fisik maupun nonfisik, pengelolaan konflik, pembagian peran dalam keluarga, pengelolaan keuangan, serta upaya mempersiapkan generasi yang berkualitas. Pembahasan juga menekankan pentingnya lima pilar perkawinan, yakni hidup berpasangan, membangun janji yang kokoh, memperlakukan pasangan dengan baik, bermusyawarah, dan saling rida.

Pembekalan tersebut diharapkan dapat memperkuat kompetensi para penyuluh agama dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada calon pengantin maupun keluarga di wilayah binaan masing-masing.

 

Melalui pembinaan dan rapat koordinasi triwulan ini, Kementerian Agama Kabupaten Jember berharap para penyuluh agama semakin solid, profesional, inovatif, dan responsif terhadap berbagai persoalan masyarakat. Penyuluh agama diharapkan terus menjadi penggerak moderasi beragama, penguatan ketahanan keluarga, perlindungan perempuan dan anak, serta pembangunan kehidupan keagamaan yang harmonis di Kabupaten Jember.

Bagikan: WA FB
Kembali ke Daftar Berita

Aksesibilitas
Ukuran Teks
Tema
Keterbacaan
Kurangi Animasi
Baca Teks (TTS)