
Jember (Humas) --- Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jember, Dr. Santoso, S.Ag, M.Pd, menghadiri kegiatan buka puasa bersama yang digelar oleh Yayasan Puan Amal Hayati pada Jumat (14/3/2025). Acara yang berlangsung di Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan, Jalan Kartini No. 58 Jember ini menghadirkan Dr. (H.C) Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum sebagai pembicara utama.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat silaturrahmi serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya toleransi dan keharmonisan antar umat beragama. Acara ini terselenggara berkat kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk Tanoker Ledokombo, Peace Leader Indonesia, dan Gus Durian Jember. Dengan semangat kebersamaan, kegiatan ini menjadi wujud nyata dari upaya merawat keberagaman di Indonesia.
Suasana semakin meriah dengan penampilan barongsai yang disusul dengan pertunjukan musik Chinese drum, kolintang, angklung, serta kelompok vokal yang membawakan lagu "Ramadan Tiba."
Dalam sambutannya, Santoso menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Puan Amal Hayati atas inisiatifnya dalam menyelenggarakan kegiatan yang sarat dengan nilai-nilai kebersamaan dan keberagaman. “Momentum Ramadan adalah saat yang tepat untuk memperkuat tali silaturahmi serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya toleransi dan keharmonisan antar umat beragama,” ujar Santoso.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kegiatan seperti ini selaras dengan misi Kementerian Agama dalam membangun kehidupan beragama yang rukun dan damai. “Kami sangat mendukung upaya Yayasan Puan Amal Hayati dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya hidup berdampingan secara harmonis, tanpa melihat perbedaan suku, agama, dan budaya,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hj. Shinta Nuriyah menyampaikan tausiyah dan ceramah kebangsaan dengan tema “Pangkat dan Jabatan Belum Tentu Membuatmu Bahagia, Namun Iman dan Taqwa Akan Mengantarmu Menuju Surga.” Melalui pesannya, beliau mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh jabatan atau status sosial, tetapi oleh kekuatan iman dan takwa yang dimiliki setiap individu.
Momen berbuka puasa menjadi lebih istimewa dengan adanya konsumsi yang diperoleh melalui gotong royong, melibatkan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tergabung dalam Kuliner Nusantara Jember. Selain itu, partisipasi aktif kaum perempuan dan berbagai kelompok masyarakat dalam penyediaan hidangan berbuka turut menambah makna kebersamaan dalam acara ini.

Ketua panitia penyelenggara, Sarinah, menyatakan bahwa kehadiran Bu Shinta merupakan kehormatan besar bagi warga Jember. “Beliau tidak hanya menyapa warga, tetapi juga memberikan wawasan yang memperteguh iman di bulan suci ini,” ujarnya.
Penyelenggaraan acara di Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan juga memiliki makna mendalam terkait perjuangan Gus Dur dalam membela kaum minoritas.
Sekolah ini menjadi bukti nyata dari kebijakan Gus Dur yang mencabut aturan pembatasan budaya Tionghoa, sehingga bahasa dan budaya Tionghoa kini dapat dipelajari secara bebas. Direktur Tanoker, Ciciek Farha, menambahkan bahwa keterlibatan komunitas Tionghoa serta kelompok minoritas dan rentan dalam acara ini mencerminkan perhatian besar Bu Shinta terhadap keberagaman. “Kami berharap dengan adanya ruang perjumpaan seperti ini, persaudaraan dan pengertian antar masyarakat semakin erat,” ungkapnya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar, acara ini ditutup dengan pembagian paket sembako bagi warga dari berbagai profesi. Dengan semangat kebersamaan, kegiatan ini menjadi simbol solidaritas dan harmoni di tengah keberagaman masyarakat Jember.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semangat persaudaraan dan toleransi antar umat beragama di Jember semakin erat, serta menjadi inspirasi bagi masyarakat luas dalam menjaga keberagaman dan persatuan di Indonesia.