Jember (Humas) --- Suasana sukacita dan penuh syukur menyelimuti peringatan 100 tahun Gereja Katolik St. Theresia Lisieux Sukoreno dan SDK St. Yusuf Sukoreno, yang digelar pada Sabtu (23/5/2026). Perayaan satu abad perjalanan iman dan pendidikan Katolik tersebut menjadi momentum bersejarah bagi umat Katolik, dunia pendidikan, serta masyarakat Sukoreno dalam mengenang panjangnya jejak pelayanan, pengabdian, dan kontribusi bagi kehidupan sosial masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi Hari Raya Pentakosta yang dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Malang, Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan. Misa syukur berlangsung dengan khidmat dan penuh kekeluargaan, diikuti oleh umat, tokoh masyarakat, alumni, serta tamu undangan dari berbagai unsur.
Selain Bapa Uskup, hadir pula Kepala Desa Sukoreno, Achmad Choiri, jajaran Muspika, para tokoh agama lintas iman, para romo, pengurus yayasan, tokoh masyarakat, alumni, serta warga sekitar. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi simbol kuatnya semangat kebersamaan, toleransi, dan kerukunan yang selama ini tumbuh dan terpelihara di tengah masyarakat Sukoreno.
Desa Sukoreno dikenal luas sebagai Desa Pancasila, sebuah identitas yang lahir dari kehidupan masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai persatuan dalam keberagaman. Masyarakat lintas agama di desa ini hidup berdampingan secara harmonis, saling mendukung, dan saling menghormati dalam berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan.
Semangat tersebut tampak nyata dalam perayaan satu abad Gereja Katolik St. Theresia Lisieux dan SDK St. Yusuf Sukoreno. Seluruh unsur masyarakat turut memberikan dukungan dan berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan. Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman bukan menjadi sekat, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan dan kebersamaan.
Kepala Desa Sukoreno, Achmad Choiri, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kontribusi Gereja dan lembaga pendidikan Katolik yang selama ini telah menjadi bagian penting dalam perjalanan sosial, pendidikan, dan kemasyarakatan di Sukoreno.
Menurutnya, keberadaan Gereja Katolik St. Theresia Lisieux dan SDK St. Yusuf Sukoreno tidak hanya menjadi tempat pelayanan iman dan pendidikan, tetapi juga telah ikut menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, kedisiplinan, persaudaraan, serta kepedulian terhadap sesama.
“Peringatan 100 tahun ini menjadi bukti bahwa Gereja dan sekolah Katolik telah berjalan bersama masyarakat. Semangat kebersamaan, gotong royong, dan saling menghormati inilah yang harus terus kita jaga sebagai kekuatan Desa Sukoreno,” ungkapnya.
Perayaan satu abad tersebut semakin semarak dengan beragam penampilan seni dan budaya yang melibatkan anak-anak, pelajar, generasi muda, serta warga. Berbagai penampilan seperti tari, gerak dan lagu, karaoke, gamelan, hingga drama sejarah perkembangan iman Katolik di Desa Sukoreno turut memeriahkan kegiatan.
Keterlibatan anak-anak dan generasi muda menjadi gambaran bahwa perayaan ini tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi ruang pewarisan nilai iman, pendidikan, budaya, dan kebersamaan kepada generasi penerus.
Puncak kegiatan perayaan 100 tahun ditandai dengan pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Priyo Djatmiko dengan lakon “Semar Mbangun Kayangan”. Lakon tersebut mengandung pesan mendalam tentang membangun tatanan kehidupan yang harmonis, menjaga kebijaksanaan, memperkuat persatuan, serta menghadirkan nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pagelaran wayang kulit menjadi simbol bahwa Gereja tidak hanya bertumbuh dalam kehidupan iman, tetapi juga hadir dan menyatu dengan budaya lokal. Melalui seni dan budaya, nilai-nilai kebaikan, kedamaian, dan persaudaraan dapat disampaikan dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Perayaan satu abad ini sekaligus menegaskan bahwa perjalanan Gereja Katolik St. Theresia Lisieux Sukoreno dan SDK St. Yusuf Sukoreno bukan hanya tentang usia yang panjang, tetapi tentang kesetiaan dalam merawat iman, pendidikan, pelayanan, dan persaudaraan.
Melalui momentum bersejarah ini, Gereja Katolik St. Theresia Lisieux Sukoreno dan SDK St. Yusuf Sukoreno diharapkan terus menjadi sumber terang, penggerak pelayanan, serta hadir membawa damai, harapan, dan kebaikan bagi masyarakat.
Satu abad perjalanan menjadi bukti bahwa iman, pendidikan, budaya, dan kerukunan dapat berjalan beriringan. Dari Sukoreno, semangat persaudaraan dalam keberagaman terus menyala, menjadi teladan nyata moderasi beragama dan kehidupan masyarakat yang rukun, damai, serta saling menguatkan.