
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jember, Dr. Santoso, S.Ag., M.Pd., menjadi narasumber workshop di Universitas Islam Jember (UIJ), Senin (6/7/2026). Kegiatan bertajuk "Membangun Paradigma Perguruan Tinggi melalui Diktisaintek Berdampak" ini digelar di Aula K.H. Dhofir Salam, Kampus I UIJ Jalan Kyai Mojo 101 Jember.
Selain Santoso, workshop turut menghadirkan Wakil Rektor I UIJ Dr. Arifin Nur Budiono dan Sekretaris LP Ma'arif Cabang Jember Ahmad Jamaludin sebagai narasumber. Anggota DPR RI Komisi X H. Muhammad Nur Purnamasidi menyampaikan keynote speech, sementara sambutan pembukaan disampaikan Rektor UIJ Dr. Ahmad Halid.
Dalam paparannya, Santoso menekankan bahwa perubahan zaman menuntut perguruan tinggi bergerak lebih cepat. Kampus tidak boleh lagi sekadar menjadi tempat transfer ilmu.
"Dunia berubah cepat, kampus harus bergerak lebih cepat dan lebih bermakna," kata Santoso.
Ia menjelaskan empat unsur utama Diktisaintek Berdampak, yakni ilmu yang hidup, riset bermanfaat, teknologi yang memudahkan, dan lulusan berkarakter. Menurutnya, ilmu, riset, dan kebijakan kampus harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Santoso juga memaparkan pergeseran paradigma dari pola lama menuju pola baru. Paradigma lama menempatkan riset berhenti pada laporan dan kolaborasi yang terbatas. Sementara paradigma baru mendorong riset aplikatif, keputusan berbasis eviden, dan kolaborasi berkelanjutan.
Ia merinci empat pilar yang harus diperkuat perguruan tinggi. Pilar pertama adalah tata kelola yang akuntabel, profesional, transparan, dan berbasis data. Pilar kedua yakni inovasi yang relevan melalui gagasan baru, riset aplikatif, dan teknologi tepat guna.
Pilar ketiga adalah kolaborasi berkelanjutan yang menempatkan kampus sebagai pusat sinergi. Kampus perlu menjalin kerja sama dengan pemerintah, pesantren, dunia usaha, madrasah, dan masyarakat. Pilar keempat menyangkut karakter dan nilai keagamaan, meliputi akhlak, kejujuran, tanggung jawab, moderasi beragama, dan kepedulian sosial.
"Perguruan tinggi tidak boleh menjadi penonton perubahan," ujar Santoso.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya pendidikan Islam yang seimbang antara ilmu, iman, amal, dan akhlak. Kampus Islam, kata dia, harus menjadi ruang tumbuhnya nalar kritis sekaligus semangat pengabdian yang membawa rahmat bagi kehidupan.
Santoso menambahkan bahwa keberhasilan kampus tidak cukup diukur dari gedung atau jumlah mahasiswa. Ukuran sesungguhnya terletak pada manfaat bagi masyarakat dan kontribusi nyata bagi daerah.